Senin, 01 Juli 2013

tulisan manusia dan kebudayaan

Tulisan Manusia dan kebudayaan

Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak bisa di pisahkan karena di mana manusia itu hidup dan menetap dapat di pastikan manusia akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya.
manusia yang merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dan mengadakan suatu kebiasaan-kebiasaan dengan komunitasnya yang terus mereka kembangankan dan lestarikan secara turun temurun sehingga kebiasaan-kebiasaan itu sudah menjadi suatu warisan dari generasi sebelumnya dan akan terus berkembang selama genrasi-generasi selanjutnya tetap menjaga dan melestarikan kebudayaan.

Setiap manusia memiliki kebudayaan yang berbeda-beda itu di sebabkan mereka memiliki komunitas tersendiri di wilayahnya sehingga apabila kita amati manusia di belahan dunia manapun memiliki kebudayaannya masing-masing tak terkecuali di indonesia yang memiliki banyak keberagaman budaya. Perbedaan kebudayaan ini sangatlah wajar karna perbedaan yang dimiliki seperti faktor Lingkungan, faktor alam, manusia itu sendiri dan berbagai faktor lainnya yang menimbulkan Keberagaman budaya tersebut
Pembentukan kebudayaan ini sebenarnya di sebabkan karena manusia di hadapkan pada suatu persoalan yang meminta pemecahan suatu masalah, sehingga dalam rangka usahanya itu maka manusia harus bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara. Nah hal-hal yang dilakukan oleh manusia inilah yang menjadi kebudayaan.
Manusia Indonesia dan Kebudayaan
Manusia Indonesia dalam hal kebudayaan saat ini mengalami berbagai rintangan dan halangan untuk menerima serbuan kebudayaan asing yang masuk lewat Globalisasi (perluasan cara-cara sosial melalui antar benua). Dalam hal ini teknlogi informasi dan komunikasi yang masuk ke Indonedia turut merobah cara kebudayaan Indonesia tersebut baik itu kebudayaan nasional maupun kebudayaan murni yang ada di setiap daerah di Indonesia. Dalam hal ini sering terlihat ketidakmampuan manusia di Indonesia untuk beradaptasi dengan baik terhadap kebudayaan asing sehingga melahirkan perilaku yang cenderung ke Barat-baratan (westernisasi). Hal tersebut terlihat dengan seringnya remaja/i Indonesia keluar-masuk pub, diskotik dan tempat hiburan malam lainnya berikut dengan berbagai perilaku menyimpang yang menyertainya dan sering melahirkan komunitas tersendiri terutama di kota-kota besar dan metropolitan. Dalam hal ini terjadinya berbagai kasus penyimpangan seperti penyalah gunaan zat adiktif, berbagai bentuk kategori pelacuran dan ‘western’ lainnya tak lepas dari ketidak mampuan manusia Indonesia dalam beradaptasi sehingga masih bersikap ‘conform’ dan ‘latah’ terhadap kebudayaan asing yang melenyapkan inovasi dalam beradaptasi dengan budaya asing sehingga melahirkan bentuk akulturasi. Bila dikaji dengan teliti hal tersebut mungkin dikarenakan ciri-ciri manusia Indonesia lama yang masih melekat seperti percaya mitos dan mistik, sikap suka berpura-pura, percaya takhyul yang dimodifikasi, konsumerisme, suka meniru, rendahnya etos kerja dan lain sebagainya bisa jadi mengakibatkan terhambatnya akulturasi (percampuran dua/lebih kebudayaan yang dalam percampurannya masing-masing unsurnya lebih tampak). Sikap etnosentrime (kecenderungan setiap kelompok untuk percaya begitu saja akan keunggulan/superioritas kebudayaannya sendiri dan sikap senosentrisme (sikap yang lebih menyenangi pandangan/produk asing) merupakan hal selanjutnya yang dapat menghambat terwujudnya kebudayaan nasional untuk kemajuan bangsa dan negara.
Sepertinya, sudah saatnya manusia Indonesia berikut dengan berbagai kebudayaan daerahnya yang ada melakukan suatu bentuk adaptasi yang sifatnya inovasi/pembaruan dengan budaya Barat/asing seperti dalam hal kesenian dimana instrumen musik tradisional dipadukan dengan instrumen modern (alat-alat band dengan teknologi komputernya) maupun perawatan berbagai benda kebudayaan dengan teknologi asing yang ada sehingga akulturasi dapat diwujudkan.
Selain itu, pengaruh media komunikasi seperti Televisi, radio, Internet sangat besar dampaknya dalam hal cara pandang manusia Indonesia terhadap ras. Sinetron-sinetron maupun film yang ditayangkan di Televisi dan bioskop yang memvisualisasikan dan mensosialisasikan gaya hidup ras Caucasoid (orang Eropah) turut mempengaruhi cara pandang manusia Indonesia terhadap budayanya sehingga tidak timbul kesadaran untuk mempelajari tindakan sosial dan sebaliknya. Dalam hal ini manusia Indonesia sepertinya lebih mengagung-agungkan/memuja ras Caucasoid berikut dengan gaya hidupnya dan menjadikannya sebagai kelompok acuan (umumnya oleh kaum perempuan) sehingga secara tak langsung mempengaruhi akal dan intelegensi, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku manusia Indonesia sehingga terkendala dalam memajukan kebudayaannya sendiri.
Kedudukan Manusia Terhadap Kebudayaan
Manusia dan kebudayaan pada dasarnya memiliki  hubungan yang sangant erat kaitannya, karena hampir seluruh kegiatan manusia yang di kerjakaannya setiap saatnya merupakan sebuah kebudayaan yang sangat unik. Berikut ini adalah 4 kedudukan manusia terhadap kebudayaan:

1) penganut kebudayaan, 
2) pembawa kebudayaan, 
3) manipulator kebudayaan, dan 
4) pencipta kebudayaan. 


tulisan manusia dan harapan

TULISAN IBD (MANUSIA & HARAPAN)

"MEMBUANG HARAPAN"



Beberapa tahun lalu ada sebuah film mandarin berjudul “The Savage Kids”. Bercerita tentang anak kecil yang nakal yang suka mengganggu anak-anak kecil lain di sebuah perguruan karate. Anak nakal tersebut singkat cerita kemudian bertemu dengan seseorang laki-laki dewasa yang mengajarkannya karate, tak hanya karate yang diajarkan kakak itu namun juga banyak sekali falsafah hidup yang ia tuturkan sederhana melalui contoh-contoh cerita. Salah satunya akan saya ingat dan masih saya ingat sampai sekarang.Ini adalah sebuah cerita yang dituturkan oleh sang kakak kepada “adiknya” saat mereka berada di tepi pantai :
…….
Inilah ceritanya:
Sepulang sekolah seorang anak berjalan pulang melewati sebuah gang sempit, di sebuah gang sempit itu dia melihat seorang pengemis kecil yang sedang menangis…..anak sekolahan itu menghampiri pengemis kecil itu, lalu ia bertanya,
“mengapa kamu menangis??”
“aku kehilangan uangku, 1 dollar!” jawab pengemis kecil dengan tersedu-sedu.
“ya sudahlah, ini aku berikan 1 dollar buat kamu, sudah yah kamu jangan nangis lagi!!” tutur anak sekolah itu.

Tapi seketika uang itu diambil oleh pengemis kecil, pengemis kecil itu lalu menangis semakin keras. Anak sekolahan itu semakin bingung dan lalu ia bertanya lagi,
“mengapa engkau menangis lagi?? Bukankah aku sudah memberikan uang 1 dollar untukmu??”
“tidak,tidak…seharusnya sekarang aku mempunyai uang dua dollar jika seandainya tadi aku tidak kehilangan 1 dollar milikku!!” jawab sang pengemis kecil.
———-
Cerita itu sungguh luar biasa…..bahwa sebuah harapan yang hilang akan mungkin dan bisa terganti dengan hal yang sama atau lebih indah. Tidak bersyukurkah kita jika harus mengingat-ingat dan meratapi harapan-harapan yang telah musnah?
“Kamu tidak bisa hidup seperti mereka, namun saat ini kamu sudah bisa mencapai apa yang mereka bisa”  Kata kakak itu.  Ia tahu bahwa anak (yang semula nakal) itu sangat ingin bisa belajar di perguruan karate itu, namun apa daya ia hanya anak nakal yang tak akan bisa diterima oleh teman-temannya di perguruan. Kini ia punya sang kakak yang selalu sabar mengajarkannya karate dan perlahan-lahan mengembalikan dia menjadi anak yang baik.

Jangan terlalu banyak harapan jika kita tahu bahwa harapan itu hanyalah kosong belaka. Sungguh sia-sia karena masih banyak harapan-harapan lain yang harus dipikirkan untuk segera diwujudkan.
Membuang satu harapan mungkin terasa lebih ringan, terasa lebih ringan untuk menjalani dan mencapaiharapan-harapan lain yang lebih nyata.

Seperti sebuah gelas yang terisi air penuh, maka ia akan tumpah saat ia diisi air kembali. Kosongkan pikiranmu, lupakan apa yang seharusnya dilupakan agar bisa diisi dengan sesuatu yang baru.  (Dalam film “Forbiden Kingdom” dituturkan oleh Jackie Chan).
Melupakan adalah tugas terberat karena kita harus mengingat kembali untuk bisa melupakan.  (Dituturkan oleh Anastasia Vera dalam “Fenomania” ANTV).

If you need a shoulder Or if you need a friend , I’ll be here standing Until the bitter end.  No one needs the sorrow, No one needs the pain (Rocket Queen – Guns N’ Roses).


tugas 4

KEGELISAHAN DAN HARAPAN ATAU CITA-CITA
1.      Kegelisahan
Kegelisahan yang pernah saya alami adalah pada saat pembagian hasil kelulusan pada saat saya masih SMA. Pada saat itu semua siswa/siswi memakai seragam busana muslim. Kami semua berangkat pada pagi hari. Yang membuat rasa gelisah datang adalah pada saat di kumpulkan ditegah-tengah lapangan dan menunggu pengumuman pembagian kelulusan dan diumumkan bahwa hasil kelulusan akan dibagikan pada pukul 10 pagi. Saya dan teman-teman saya menunggu dari pukul 7 pagi. Kami menunggu selama kurang lebih 3 jam untuk menunggu hasil kelulusannya itu yang membuat saya gelisah adalah pada saat menunggu. Dan untuk mengatasi kegelisahan itu adalah dari pihak sekolah mengadakan game atau kuis untuk semua siswa-siswinya untuk mengurangi rasa gelisah,dan jenuh.
Rasa gelisah yang pernah saya alami lagi adalah pada saat menunggu hasil diterima atau tidaknya di Universitas Gunadarma dan cara untuk mengatasinya adalah degan cara bermain game dirumah sambil menunggu panggilan dari Universitas Gunadarma untuk mengambil berkas hasil testingnya.
Rasa gelisah yang saya alami lagi adalah pada saat saya ditinggal oleh kedua orang tua saya pergi dan pada saat itu saya sangat gelisah karena di luar sedang hujan deras. Dan untuk mengatasinya adalah dengan cara menelpon orang tua saya.
2.      Harapan atau Cita-Cita
Cita-cita dan harapan saya adalah ingin menjadi seorang pemain sepak bola profesional. Kenapa saya ingin menjadi seorang pesepak bola profesional? Itu karena saya ingin mengembangkan persepakbolaan di indonesia menjadi lebih baik dan ingin berkarir di internasional.
Untuk mencapai cita-cita saya adalah dengan cara latihan rutin setiap minggu di sekolah bola, dan dengan tidak menyombongkan diri bila diri saya sudah sempurna, dengan bekerja keras menjadi yg lebih baik dari sebelumnya.


tugas 3

PENGALAMAN PRIBADI TENTANG MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

Dari kecil saya diajarkan rasa bertanggung jawab oleh orang tua saya terhadap apa yang telah saya perbuat. Salah satu tanggung jawab yang diajarkan oleh orang tua saya adalah mengenai nilai di sekolah maupun diperkuliahan. Saya harus bertanggung jawab terhadap nilai tersebut. Apabila mendapatkan nilai yang bagus saya selelu ditanya darimana bisa mendapatkan nilai bagus apakah hasil mencontek ataukah hasil kerja keras sendiri. Dan apabila mendapatkan nilai yang jelek juga ditanya kenapa dapet nilai segini apakah tidak belajar atau tidak paham dengan pelajarannya. Disinilah saya bertanggung jawab terhadap nilai-nilai yang saya dapatkan untuk bisa lebih maju kedepannya. Selain masalah nilai saya juga diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap agama yang saya anut yaitu agama islam. Dimana saya harus menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Perintah-perintah Allah diantaranya adalah menjalankan solat 5 waktu dan menjalankan puasa dibulan sunat dan puasa wajib. Ini merupakan tanggung jawab yang  sangat berat dalam hidup saya karena godaanya sangatlah besar, dan inilah yang menentukan di alam alhirat nantinya. Tanggung jawab yang berikutnya adalah tanggung jawab terhadap segala perbuatan dan tingkah laku yang saya perbuat selama hidup. Saya harus mempertanggung jawabkan segala perbuatan dan tingkah laku yang saya lakukan sehari-hari seperti tanggung jawab terhadap kesehatan jasmani dan rohani. Tanggung jawab berikutnya adalah membahagiakan orang tua yang sedari saya masih kecil mengasuh dan membimbing serta memberi fasilitas buat saya dan mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab untuk hidup saya yang lebih baik kedepannya.

puisi

Perasaan yang bergelombang
Menepik semua kekecewaan
Susuatu yang begitu dekat
Terlihat semu oleh mata
                                                                Bangkitlah raga ini
                                                                Menopang tubuh menjadi perisai
                                                                Melawan dera yang begitu sakit
                                                                Melepaskan semua rantai yang ada
Suara serak dari perut ini
Kembali menggema ruangan kosong
Menandakan arti dan makna yang jelas
Bahwa harapan telah kembali

                                                                                                Karya : Sity Juniartika Ishak

Makna:
Masalah yang ada di depan mata, membuat pikiran menjadi tak menentu untuk menghadapinya, apalagi masalah yang mudah, setelah dikerjakan malah menjadi semakin sulit.
Oleh karena itu kita harus menghadapai semuanya dengan sabar, agar semua masalah selesai.
Dengan demikian, pikiran menjadi lega, dan harapan baru dan kebabasan akan muncul.


resensi prosa baru

RESENSI NOVEL ( Tugas IBD)
RESENSI NOVEL
TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

Nama Pengarang    : Ahmad Tohari
Judul Novel           : Ronggeng Dukuh Paruk
Tahun Terbit          : 1982
Cetakan                 : 2003
Tebal Buku            : 408 halaman
Penerbit                 : Pt. Gramedia Pustaka Utama
Sutradara               : Ifa Isfansyah
Judul Film              : Sang Penari
Pemeran  Utama     :   -   Prisia Nasution ( Srintil )
-         Oka Antara ( Rasus )
Tahun Terbit           : 2011

Novel karya dari Ahmad Tohari ini sangat populer sehingga oleh Ifa Isfansyahdi buat menjadi sebuah film yang sama seperti novelnya. Namun memang dalam penamaan judul buku dan film itu berbeda mungkin karena nama dalam judul buku itu bila di pandang dari sisi perfilm-an tidak baik maka di gantilah menjadiSANG PENARI.
Sinopsis Film :
Di dalam Novel atau filmnya di ceritakan bahwa di daerah Jawa Tengah masih ada tradisi yang di anut oleh masyarakat yaitu menjungjung tinggi sebuah tradisi tarian ronggeng. Sebut saja desa itu adalah Dukuh Paruk yang dulunya sempatmengalami masa kelam pada tahun 1953 silam. Santayib, pembuat tempe bongkrek Dukuh Paruk, tak sengaja menjual tempe bongkrek beracun, yang membunuh banyak warga, termasuk Surti ronggeng Dukuh Paruk. Penduduk dusun mulai panik dan rusuh, dan dalam kerusuhan tersebut, Santayib dan istrinya yang tidak mau di fitnah karena tempe bongkreknya beracun. Mereka pun memakan tempe tersebut di depan para warga dan benar tempe bongkrek itu beracun sehingga mereka pun meninggal di tempat. Putri dari pembuat tempe tersebut yang tidak lain adalah Srintil untungnya selamat di hari petaka untuk Dukuh Paruk dan dia pun di besarkan oleh kakeknya yang bernama Sakarya. Dan setelah kejadian tersebut, Dukuh Paruk kehilangan kehidupannya. Tarian ronggeng yang di puja warganya hilang karena tidak ada penerus setelah kematian Surti.
Sepuluh tahun kemudian, tahun 1963, Srintil dan Rasus yang sama-sama yatim piatu adalah teman yang sangat dekat sejak kecil. Rasus sendiri juga menyimpan perasaan cinta pada Srintil. Dengan kondisi Dukuh Paruk yang kelaparan dan mengalami depresi sejak kehilangan sang penari ronggeng. Srintil sendiri senang menari dari kecil. Kemampuan menarinya ternyata seperti mengandung kekuatan magis yang membuat Sakarya yakin bahwa Srintil bisa menjadi ronggeng. Suatu hari Sakarya mendapat pertanda bahwa Srintil akan menjadi ronggeng besar dan mampu menyelamatkan Dukuh Paruk dari kelaparan. Dia kemudian meyakinkan Srintil untuk menjadi ronggeng dan meminta Kertareja, dukun ronggeng Dukuh Paruk untuk menjadikan Srintil seorang ronggeng. Srintil percaya bahwa dengan menjadi ronggeng, dia bisa membayar dosa kedua orang tuanya dalam insiden tragis sepuluh tahun lalu. Dia kemudian mencoba untuk membuktikan dirinya dengan menari di makam Ki Secamenggala, pendiri Dukuh Paruk. Walaupun gagal meyakinkan Kartareja pada kali pertama, Rasus yang menaruh simpati pada tekad Srintil menolong Srintil dengan memberinya benda temuannya, sebuah pusaka ronggeng milik Surti, ronggeng Dukuh Paruk yang telah tiada. Setelah melihat pusaka tersebut, Sakarya akhirnya berhasil meyakinkan Kartareja. Srintil kemudian dipermak dan dirias oleh Nyai Kartareja untuk menjadi seorang ronggeng.
Kemunculan Srintil membuat kehidupan Dukuh Paruk lebih baik dari sebelumnya, karena sang penerus ronggeng mereka sudah ada kembali.Kepopuleran Srintil yang sampai ke Desa Dawuan, membuat Rasus, teman kecil sekaligus orang yang mencintainya, tidak senang dan nyaman. Menjadironggeng berarti bukan hanya dipilih warga dukuh untuk menari, namun juga untuk menjadi "milik bersama". Srintil harus melayani banyak lelaki di atas ranjang setelah menari. Setelah keberhasilan Srintil menari di makam Ki Secamenggala, Srintil harus menjalani ritual terakhir sebelum dia benar-benar bisa menjadi ronggeng yang disebut Bukak Klambu, di mana keperawanannya akan dijual kepada penawar tertinggi. Hal ini mengecewakan Rasus, yang mengatakan pada Srintil bahwa dia tidak senang dengan keputusannya menjadironggeng. Srintil mengatakan bahwa dia akan memberikan keperawanannya kepada Rasus, dan pada hari Bukak Klambu mereka berhubungan seks di sebuah kandang kambing. Malam itu juga, Srintil berhubungan seks dengan dua "penawar tertinggi" lainnya dan menjadi ronggeng sejati.
 Hancur hatinya, Rasus memutuskan untuk pergi dari Dukuh Paruk, meninggalkan Srintil yang patah hati. Dia kemudian bergabung dengan sebuah batalyon TNI yang bermarkas tak jauh dari Dukuh Paruk, di mana ia berteman dengan Sersan Binsar  yang juga mengajarkan dia membaca. Sementara itu, warga Dukuh Paruk yang dirundung kelaparan dan kemiskinan bertemu dengan seorang aktivis dan anggota Partai Komunis Indonesia, Bakar tiba di Dukuh Paruk dan meyakinkan petani Dukuh Paruk untuk bergabung dengan partai komunis, untuk menyelamatkan wong cilik (kelas bawah) Dukuh Paruk dari kelaparan, kemiskinan, dan penindasan para tuan tanah yang serakah.
Namun kemudian malapetaka politik terjadi di Jakarta tahun 1965, dan karena kebodohan mereka tentang politik, warga dukuh Paruk pun ikut terseret karena "keterlibatan" mereka dalam acara-acara kesenian rakyat tersebut. Setelah terjadinya percobaan kudeta yang gagal di Jakarta, Rasus dikirim oleh Sersan Binsar dalam misi untuk "mengamankan" orang-orang partai komunis di daerah. Namun, ketika giliran Dukuh Paruk tiba karena ikut terseret ke dalampembantaian berdarah itu, Rasus bergegas kembali, meninggalkan rekan pasukannya ke kampung halamannya untuk mencari dan menyelamatkan cintanya, Srintil. Cinta mereka harus menghadapi akhir yang tragis di tengah-tengah situasi tergelap dalam sejarah politik Indonesia. Rasus menemukan Dukuh Paruknya telah hancur dan warganya telah hilang seperti ditelan bumi, hanya menyisakan Sakum yang buta. Sakum meminta Rasus untuk secepatnya mencari Srintil, namun pencarian Rasus akhirnya sia-sia. Rasus tiba di sebuah tempat tersembunyi tepat pada saat Srintil dan warga Dukuh Paruk dibawa oleh kereta pengangkut dan menghilang entah ke mana. Dan menurut kabar berita Srintil menjadi gila karena di kurung bertahun-tahun.
Selang beberapa tahun Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai seorang perempuan Dukuh Paruk, meskipun tidak mengetahui sedikitpun keberadaan Rasus.    

Srintil bertemu dengan Bajus. Bajus berjanji akan menikahi Srintil, sehingga Srintil berusaha mencintai Bajus. Tapi Srintil sangat kecewa, karena Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.

“Malam  telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya, dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecilnya manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kecil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.”

        Unsur Intrinsik :
1.     Tema : tentang kebudayaan di dalam suatu daerah yaitu budaya Ronggeng.
2.     Tokoh dan penokohan :
Tokoh tokoh dalam novel atau film di atas yang menonjol di antaranya Srintil sang ronggeng, Rasus sebagai tentara, Sakarya, Kartareja dan istrinya.
-         Srintil : seorang anak yatim piatu yang bercita-cita sebagai ronggeng. Mempunyai keahlian dalam memikat hati lelaki, pandal menari dan juga cantik.
-         Rasus : seorang anak yatim piatu juga yang dari kecil sudah mengagumi kecantikan srintil karena merasa sosok ibunya ada di diri Srintil. Dia rajin, terbukti dia tumbuh menjadi pria dewasa di bawah pengawasan tentara dan rela meninggalkan Dukuh paruk.
-         Sakarya : kakeknya Srintil yang sangat mematuhi adat, dan sangat mempercayai keberadaan ki Secamenggala.
-         Kartareja dan istrinya : dukun ronggeng yang licik. Karena pada saat ritual bukak klambu untuk permulaan menjadi ronggeng mereka melakukan kelicikan pada sua orang pemuda yang berhasil membawa persyaratan karena mereka tidak ingin kehilangan harta yang melimpah.
Ada pun tokoh-tokoh lainnya seperti Darsun, Warta, Sakum, Santayib, Istri Santayib, Nenek Rasus, Nyai Sakarya, Siti, Ibu Siti, dan warga Dukuh Paruk lainnya, juga sang leluhur yang sosoknya selalu disebut-sebut warga Dukuh Paruk, Ki Secamenggala.
-         Alur : Campuran, karena terkadang ceritanya melaju ke masa depan namun juga terkadang mengulas masa lalu.

-         Setting : - Tempat : Jawa Tengah, Pedesaan Dukuh Paruk, Desa Dawuan, Jakarta.

-         Waktu : Tahun 1946 dan 1965, di sore hari dan malam hari

-         Sudut Pandang : di dalam novel, pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena pengarang menggunakan keakuannya pada tokoh Rasus yang seolah tahu semua hal yang terjadi pada semua tokoh lainnya.

-         Amanat : Dalam isi cerita novel tau filmnya dapat di ketahui bahwa amanat yang sangat jelas terlihat adalah kita memang harus mempercayai adat yang ada karena itu memang sudah seharusnya jika kita tinggal di satu kelompok masyarakat namun kita juga tidak boleh melupakan kehidupan di luar yang siapa tau bisa membantu kita mendapatkan kreatifitas yang lebih di bandingkan hanya dengan mempercayai adat.


        Unsur Ekstrinsik :
-         Nilai Agama : Sarana penghubung batin dengan nenek moyang adalah dengan menyanyikan sebuah kidung. Sarana yang diajarkan oleh nenek moyangnya adalah sebuah kidung yang dinyanyikan oleh Sakarya dengan segenap perasaannya.
               Ana kidung rumeksa ing wengi
               Teguh ayu luputing lara
               Luputa bilahi kabeh                                    
               Jin setan datan purun…
-         Nilai Sosial : Nilai yang di dapat yaitu atas kepercayaan masyarakat pada Ki Secamenggala, kemelaratan (kemiskinan), sumpah-serapah,irama calung dang seorang ronggeng.
-         Nilai Budaya : Kebudayaan ronggeng di Dukuh paruk yang sudah ada sejak lama dan di pertahankan.

       Kelebihan dan Kekurangan
-         Kelebihan : di dalam cerita ini sarat akan nilai kemanusiaan dan penghormatan pada perempuan. Srintil merupakan simbol tokoh yang dijadikan sebagai semangat keperempuanan yang berjuang untuk keluar dari hitamnya zaman,dimana perempuan saat itu harus diperbudak oleh lelaki sebagai hawa nafsu dan selalu dikekang dalam memilih hidupnya sendiri. Sangat sarat dengan HAM.terutama lebih menekankan hak pribadi yang juga harus dimiliki seseorang (terutama perempuan).
Dan mengajarkan kita untuk selalu sadar dan ingat sejarah. Sejarah disini bukan harus ditutupi,namun dikaji dan direnungkan sebagai suatu ‘pedoman arah’ agar sejarah yang tak terulang di masa depan. Mungkin ini yang menjadi sensor dari rezim,yang banyak kritik dan pembongkaran sejarah G30S,sehingga banyak terkena sensor.

-         Kekurangan : Penceritaan yang bertele-tele dengan sisipan suasana desa yang begitu detail namun keluar dari alur cerita,sehingga cerita seolah menjadi tak konsisten dan terlalu jenuh. Dan yang paling kental adalah banyaknya kata-kata yang sangat seronok dan kasar,seperti Asu Buntung,Bajul Buntung,dan sebagainya yang begitu kasar dalam kasta Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia.

-         Kesimpulan : Kita jadi bisa tahu aspek-aspek kemasyarakatannya, maka sesuai jika mengkaji isi dari cerita ini yang konon sangat memiliki esensi budaya dan adat istiadat yang melekat erat di masyarakatnya. Dan Ronggeng Dukuh Paruk banyak sekali terdapat konteks kehidupan masyarakat Jawa dan kental akan berbagai fungsi, seperti fungsi sosial, Fungsi Religiusitas. Fungsi Moralitas, Fungsi Didaktif, Fungsi Estetis, Fungsi Rekreatif dan fungsi kontrol sosial. Selain fungsi sastra, berbagai nilai kehidupan seperti nilai sosial, nilai budaya, nilai bermasyarakat, dan nilai religius juga terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.


resensi prosa lama

RESENSI PROSA LAMA -DONGENG-

Dongeng Anak Indonesia - Kisah Semut Dan Kepompong

     Dikisahkan ada sebuah hutan yang sangat lebat, tinggallah disana bermacam-macam hewan, mulai dari semut, gajah, harimau, badak, burung dan sebagainya. Pada suatu hari datanglah badai yang sangat dahsyat. Badai itu datang seketika sehingga membuat panik seluruh hewan penghuni hutan itu. Semua hewan panik dan berlari ketakutan menghindari badai yang datang tersebut.

Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat hangatnya dan kicauan burung terdengar dengan merdunya, namun apa yang terjadi? banyak pohon di hutan tersebut tumbang berserakan sehingga membuat hutan tersebut menjadi hutan yang berantakan.

Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi di sebuah pohon yang sudah tumbang. "Hu..huu...betapa sedihnya kita, diterjang badai tapi tak ada tempat satupun yang aman untuk berlindung..huhu.." sedih sang Kepompong meratapi keadaan.

Dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya berkata "Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak seperti kau yang ada diatas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai" kata sang Semut dengan sombongnya.

Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan tersebut, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur hidup. Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan diatas lumpur hidup yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.

"Tolong...tolong....aku terjebak di lumpur hidup..tolong", teriak si semut. Lalu terdengar suara dari atas, "Kayaknya kamu lagi sedang kesulitan ya, semut?" si Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang diatas lumpur hidup tadi.

"Siapa kau?" tanya si Semut galau. "Aku adalah kepompong yang waktu itu kau hina" jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya. "Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah". Si kupu-kupu akhirnya menolong si Semut dan semutpun selamat serta berjanji ia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.


RESENSI :
            Dalam dongeng semut dan kepompong ini mangisahkan bahwa suatu hari di dalam hutan yang lebat terjadilah badai yang sangat hebatnya merusak dan menghancurkan pepohonan yang ada di dalam hutan tersebut, setelah badai itu berlalu terlihatlah seekor kepompong yang sedang bersedih karena tak ada lagi tempat untuk ia berlindung.
            Lalu datang lah seekor semut yang menyombongkan dirinya kepada kepompong dan seluruh hewan di hutan karena ia tinggal di bawah tanah dan terlindung dari badai namun pada suatu hari ketika sang semut sedang berjalan ia terjebak dalam tanah yang berlumpur yang menghisap tubuhnya semut pun panik dan bingung lalu di saat itu pula datanglah seekor kupu-kupu ternyata kupu-kupu tersebut adalah seekor kepompong yang dulu ia telah hina, kemudian kupu-kupu pun  membantu semut untuk keluar dari kolam lumpur tersebut karena semut tersebut merasa malu dia pun  meminta maaf kepada kepompong karena dulu telah menyombongkan dirinya.
            Hikmah yang bisa kita tarik dari dongeng diatas adalah, kita harus menyayangi dan menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan. Intinya semua ciptaan Tuhan harus kita kasihi dan tidak boleh kita menghina makhluk yang lain.